Archive for July, 2013

Arti Sebuah Cinderamata

Arti Sebuah Cinderamata

Pernikahan adalah momen yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang hayat. Sakral, membahagiakan, mengharukan, sedih dan gembira bercampur saat itu. Semua calon pengantin pasti ingin menjadikan pernikahannya adalah pernikahan paling istimewa, bukan hanya untuk dirinya dan pasangannya saja, namun untuk para tamu undangan yang hadir disana.

Salah satunya dengan memberikan sebuah cinderamata, diharapkan para tamu undangan senang serta dapat mengenang pernikahan kedua mempelai.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan “Sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. Karena itulah banyak pasangan pengantin yang memilih memberikan cinderamata yang bisa bermanfaat bukan hanya menjadi pajangan saja. Namun adakah pesan tersirat dibalik pemberian itu? atau hanya sekedar yang penting bisa digunakan.

Banyak yang ragu untuk memberikan Souvenir berupa tanaman. Takut mati, rusak ataupun layu. Namun dengan pemilihan jenis tanaman yang teliti,  hal ini tidak perlu dikhawatirkan. Pesan yang terkandung pun begitu mendalam, yakni “Selamatkan Bumi kita walau hanya menanam sebatang pohon”. Diharapkan cinta mereka akan tumbuh terus seperti tanaman yang mereka berikan sebagai cinderamata.

Sebuah kenangan yang tak kan terlupakan bagi para undangan yang hadir. Terbukti setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, saat berkunjung ke rumah kerabat. Tiba-tiba “Hei, ini tanaman souvenirmu dulu, sudah berbunga lho…!” Sungguh sangat berkesan bagi kami, tentu juga bagi para kerabat yang menerimanya.

Kami ingin berbagi kepada sahabat yang juga ingin merasakan hal yang sama seperti yang kami rasakan saat itu.

Salam Hijau…..

:) :) :)

Posted in: Campaign, Info

Leave a Comment (0) →

Souvenir Pernikahan Ramah Lingkungan

Semua yang berlabel hijau, yang berbau ramah lingkungan, tengah laris manis diburu orang. Tak heran, produsen alat-alat elektronik ramai-ramai menempelkan label hijau pada produk mereka. Sepeda, sebagai alat transportasi label hijau, juga mulai dilirik para penghuni kota. Untuk berbelanja, digunakanlah tas kain sebagai pengganti plastik. Seolah tak mau ketinggalan dengan tren ini, urusan pernikahan pun kini mulai ikut-ikutan mencantumkan label hijau.

Tak ada batasan resmi bagaimana persisnya pernikahan berlabel hijau itu. Yang selama ini mulai dipraktikkan orang adalah penggarapan desain undangan dan suvenir. Undangan konvensional dari kertas berbungkus plastik dan suvenir dari bahan-bahan yang sejenis mulai dihindari. Pengantin memilih bahan-bahan ramah lingkungan seperti daun kering, kertas daur ulang, atau tali akar pohon.


Dua tahun belakangan muncul tren baru. Tidak cukup bagian-bagian dari tanaman yang digunakan sebagai suvenir, tetapi tanaman itu sendiri. Di dunia maya, pernikahan label hijau semacam ini mulai menjadi topik hangat di banyak forum. Karena memang belum lama menjadi tren, banyak orang bertanya-tanya tentang pernikahan model ini. Situs web penyedia layanan suvenir model ini juga masih jarang ditemukan.

”Minggu lalu aku pergi ke pernikahan teman. Suvenirnya kaktus. Lucu banget deh. Ada yang tahu gak di mana aku bisa mendapatkan suvenir seperti itu? Buat referensi aja. Jadi mau married juga nih,” tulis Mela (25) di forum sebuah situs web pernikahan yang lantas menuai puluhan tanggapan.

Macam-macam memang alasan orang memilih tanaman sebagai suvenir pernikahan mereka, barangkali karena melihatnya lucu atau sekadar ingin sesuatu yang berbeda. Mereka yang lebih idealis meyakini suvenir tanaman sebagai sebentuk keterlibatan pada usaha pelestarian bumi, entah seberapa kecil sumbangsih itu.

**

Belum banyak pasangan pengantin memberikan suvenir tanaman. Defa Deleunara (26) dan suaminya, Mareta Mujiburrachman (26), adalah salah seorang dari yang sedikit itu. Dalam resepsi pernikahan Juli tahun 2009 lalu, mereka membagikan 600 botol suvenir masing-masing berisi lima biji adenium. ”Niatnya sederhana saja. Kami ingin memberikan sesuatu bagi orang lain yang bermanfaat dunia akhirat,” kata Defa, anak kedua dari empat bersaudara yang tumbuh dan besar di Bekasi.

Awalnya, Defa memesan suvenir bentuk bibit adenium. Karena sudah dalam bentuk tanaman, dia rasa suvenir ini bakal lebih mudah diterima oleh orang tua dan para tamu. Sebulan sebelum hari H, stok bibit habis. Defa akhirnya ”berjudi” dengan menerima tawaran suvenir biji sebagai pengganti.

Oleh-oleh bentuk biji tanaman tentu bukan hal yang lazim. Defa mesti berjuang keras meyakinkan orang-orang di sekelilingnya, terutama orang tua bahwa pilihannya ini tak salah. ”Orang tua takut kalau suvenirnya nanti malu-maluin mereka. Biasalah, orang tua,” ujar Defa.

Bukan hanya keberatan orang tua yang harus dihadapi Defa. Harga juga membawa persoalan tersendiri. Meski bukan barang mewah, suvenir tanaman atau biji tanaman juga tidak bisa digolongkan barang murah. Jika suvenir kebanyakan seperti kipas, gantungan kunci, atau kotak kartu nama masih bisa diperoleh dengan harga di bawah Rp 2.000, harga per satuan suvenir tanaman atau bijinya bisa tiga hingga enam kali lipatnya. Bahkan yang lebih banyak dari itu juga ada.

Harga suvenir biji adenium yang dipesan Defa Rp 9.750 per botol. Artinya, uang tak kurang dari Rp 6 juta mesti tersedia untuk suvenir. Jumlah yang cukup besar. Namun karena amat mengingininya, Defa bersikeras. Sebagian dari gaji bulanan disisihkannya khusus untuk ini.

Memberikan biji, bukannya tanaman hidup, membuat waswas juga. Jika banyak yang tak tumbuh, bakal terbukti kekhawatiran orang tua. Ketakutan semacam ini dirasakan Defa selama tiga bulan sejak resepsi. Dia baru merasa lega ketika salah seorang tetangga mengabarkan biji adeniumnya tumbuh. Setelah itu, satu per satu temannya melaporkan hal serupa.

Bukan main leganya Defa. Setiap kali bertemu para teman, diterimanya pujian atas pilihan suvenir hijau yang tak lazim itu. Salah seorang teman bahkan dengan bangga memasang foto suvenir itu sebagai profil di Facebooknya. ”Rasanya bahagia sekali. Biji-biji itu tumbuh juga akhirnya. Selama adenium tumbuh dan berkembang, selama itu pula perkawinan saya akan terus dikenang kerabat dan teman-teman,” ucapnya.

**

Kecenderungan masyarakat menyenangi barang ramah lingkungan ditangkap para pelaku bisnis dan penjual tanaman hias. Meski belum meriah, bisnis suvenir hijau mulai dilirik. Tanaman yang biasa dijadikan suvenir di antaranya kaktus, sekulen, adenium, dan anturium. Jika kaktus dan sekulen bisa diperoleh dengan harga di bawah Rp 5.000 per pot, harga anturium bisa melambung di atas Rp 20.000.

Erik Arianto (23), pemilik merek ”Erik Kaktus” adalah salah seorang penyedia layanan suvenir tanaman mini yang baru beroperasi setahun belakangan. Sebelumnya, sejak 2006, Erik berkonsentrasi pada bisnis tanaman hias saja, seperti kaktus, sekulen, dan sansivera. ”Untuk suvenir, rata-rata per bulannya 4.000 pot terjual. Ini jumlah yang besar untuk produk di tahun pertama,” ucap mahasiswa Jurusan Biologi MIPA Universitas Padjadjaran Bandung yang memiliki kebun pembenihan di Maribaya, Lembang tersebut.

Muqiet Efadlinur (28 ), dengan label ”Green4S”, memilih menawarkan suvenir adenium sejak 2008. Per bulan, 3.000 pot dapat ia kirim ke berbagai daerah di Indonesia. ”Jika dulu lebih banyak perusahaan yang membeli suvenir ini, setahun belakangan justru lebih banyak keluarga dan perorangan yang memesan. Sebagian besar untuk pernikahan,” ujarnya.

Pemerhati lingkungan Sobirin Supardiyono menilai positif tren pernikahan hijau ini. Gerakan kepedulian secara personal justru mampu menghasilkan pengaruh yang luas. ”Selama ini program penghijauan kerap jatuh sebagai projek belaka. Hasilnya, kita sama-sama tahu. Tak ada perubahan yang berarti. Tren suvenir hijau ini bisa menyentuh kesadaran masyarakat karena pendekatannya yang personal. Orang diajak terlibat,” tuturnya.

Ada idealisasi dan kepedulian dalam sepaket suvenir hijau yang diberikan saat resepsi. Di hari pernikahan, kita membagikan kebahagiaan bukan saja kepada para saudara dan sahabat, tetapi juga pada bumi yang selama ini telah dengan sabar memelihara kita. Satu tanaman hidup sangat berarti untuk membuat bumi bisa bertahan.

”Hanya saja, akan lebih baik lagi kalau suvernirnya dalam bentuk tanaman keras. Suvenir hijau untuk perkawinan atau tiap hajatan jauh lebih bermakna daripada bentuk suvenir konvensional seperti selama ini,” tutur Sobirin. (Ag. Tri Joko Her Riadi/”PR”)***

Sumber: Harian Pikiran Rakyat

Posted in: News

Leave a Comment (0) →

Souvenir Tanaman

Muqiet Efladinur (28) memulai bisnis suvenirnya tanpa kalkulasi rumit di atas kertas. Untuk pernikahannya pada awal Mei 2008, ia menginginkan suvenir yang berbeda. Sebagai aktivis pencinta alam di kampusnya, Universitas Indonesia, yang terbayang di kepalanya adalah tanaman. Sayangnya, penjual souvenir tanaman belum ada ketika itu, bahkan di ibu kota Jakarta. Pencarian di internet ketika itu belum dapat membantu.

Lelaki kelahiran Jakarta, 27 Maret 1982, ini lantas memutar otak. Diajaknya seorang teman yang paham dunia tanaman untuk merancang sendiri suvenirnya. Kerja kerasnya berbuah. Pernikahan berlangsung lancar dan suvenir habis dibawa pulang tamu. Bukan itu saja. Muqiet mendapat bonus. Banyak tamu memuji pilihan suvenir tersebut sehingga memunculkan gagasan untuk mencoba berbisnis suvenir hijau.

Sesudah tanya ke sana kemari, Muqiet memulai usahanya dengan label Green4S. Tanaman yang ia pilih adalah adenium. Alasannya, tanaman ini tergolong paling populer, bernilai ekonomis tinggi, dan mudah perawatannya karena habitat aslinya di gurun. Bukan sembarang adenium yang ia pilih. Bijinya diimpor dari Taiwan. ”Kualitas adenium lokal masih buruk,” katanya beralasan.

Harga biji adenium Taiwan tergolong mahal. Satu biji dihargai Rp 3.000 hingga Rp 5.000, sementara satu biji lokal bisa diperoleh dengan harga Rp 500. Biji-biji itulah yang kemudian dijadikan bibit dalam proses selama 2-3 bulan. Ada empat pekerja yang membantu Muqiet menyediakan stok siap kirim hingga 5.000 bibit per bulannya.

Pembibitan bukan proses yang mudah. Persentase kegagalan sangat tinggi. Sudah melegakan jika dari 11.000 biji, ada 4.000 bibit yang berhasil tumbuh. Ini yang membuat Muqiet kadang tak berani mengambil uang muka. ”Bisnis ini bukan bisnis pada umumnya. Banyak hal tergantung cuaca. Ini bisnis Tuhan,” ujar pria yang berkantor di rumahnya di Jakarta Timur ini.

Terwadahi pot tembikar yang unik, bibit adenium ia bungkus rapi dalam kotak mika. Tali akar pohon dan kertas daur ulang berisi nama pengantin atau pesan-pesan khusus digunakan untuk mempercantik suvenir tersebut. Belakangan, Muqiet juga memasarkan suvenir biji dalam botol kaca. Satu botol berisi 3-5 biji adenium dengan tutup eksklusif dari pohon oak.

Suvenir bibit lebih mahal dari biji. Untuk pemesanan 800, misalnya, akan diperoleh harga Rp 9.900 per unit untuk suvenir bibit dan Rp 6.515 untuk suvenir biji. Pengiriman bisa dilakukan lewat jasa pengantar atau diambil sendiri oleh sang pemesan. Kini, setelah sukses menjual suvenirnya ke berbagai wilayah di Indonesia, Muqiet membidik pasar luar negeri.

**
Jika Muqiet mendatangkan biji dari Taiwan, Erik Arianto (23), pemilik merek Erik Kaktus, memilih menggandeng para petani kaktus di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Stok hingga 10.000 pot per bulannya dapat ia peroleh dari delapan petani. Selain suvenir, yang baru ditekuni setahun belakangan, Erik juga melayani penjualan tanaman hias.

Erik menawarkan beragam paket suvenir dalam kisaran harga Rp 2.750 hingga Rp 7.750 dengan pemesanan minimal 100 pot. Secara sadar, ia berusaha keras menekan harga suvenir hijaunya. ”Harga ini sekaligus menjadi alternatif bagi mereka yang ingin suvenir hijau, tapi dana yang dimiliki terbatas. Jangan lagi ada kesan suvenir hijau itu mahal,” ucapnya.

Pembibitan hingga pengemasan memakan waktu antara 3-6 bulan. Kaktus atau sekulen diletakkan di pot plastik atau tembikar, tergantung harga yang disepakati. Untuk mempercantik tampilan, di sekitar tanaman ditebar batu zeolit warna-warni. Rangkaian bambu ditambahkan sebagai cantelan untuk mempermudah tamu membawa suvenir mereka.

Ketika merintis usaha, Erik memasarkan produknya secara konvensional dari pintu ke pintu. Kini, ia lebih mengandalkan promosi online lewat internet. Pria berkacamata ini membuat situs web dan masuk ke jejaring sosial, seperti Facebook. Bahkan, blog pribadinya pun ia korbankan untuk bisnis ini. ”Yang gencar saya suarakan dalam promosi adalah isu lingkungan. Suvenir ini bukan sekadar perkara oleh-oleh, melainkan juga soal kepedulian terhadap penghijauan. Ini yang jadi pembeda kami dengan pedagang suvenir lainnya,” tuturnya.

Muqiet juga mengandalkan promosi online. Tidak ada selebaran yang dipakukan di batang pohon atau pagar tembok. Bahkan, banyak transaksi dengan konsumen juga ia lakukan secara online tanpa pernah bertatap muka. ”Terbukti, isu lingkungan juga bisa dijadikan ladang penghasilan. Tapi, ini bukan semata-mata soal mengeruk untung. Idealisme juga tetap dipertahankan,” ucapnya. (Ag. Tri Joko Her Riadi/”PR”)***

Sumber: Harian Pikiran Rakyat

Posted in: News

Leave a Comment (0) →

Wedding Site Gratis

Wedding Site Gratis

Wedding Site atau Wedsite adalah sebuah website yang khusus memuat informasi pernikahan anda dalam format yang lebih atraktif dan interaktif dari sekedar undangan cetak yang format dan ruang penulisannya terbatas ukuran undangan. Undangan cetak juga memerlukan distribusi atau pengiriman dengan waktu dan biaya yang  cukup besar.

Dengan Wedding Site atau Wedsite, informasi pernikahan anda akan tampil lebih elegan, atraktif, dan interaktif, serta dapat dikirimkan keseluruh dunia melalui koneksi internet dengan biaya yang sangat murah. Bahkan, dapat dengan mudah menjangkau para undangan, melalui email, facebook, twitter, dan media sosial lainnya, yang langsung masuk ke gadget ditangan mereka (smartphone, tablet, dll).

The Green Couples akan memberikan Wedding Site ini secara gratis kepada semua customer yang melangsungkan pernikahan pada bulan April 2013 hingga Juni 2014. The Green Couples telah menjadikan banyak pernikahan lebih bernilai melalui Wedsite yang berkesan dan tak terlupakan. Ayo bergabung dengan ratusan pasangan istimewa lainnya untuk ikut menyebarkan semangat peduli lingkungan pada orang terdekat, keluarga, handai taulan, kolega, rekan sejawat, dan teman teman kalian. Tuhan telah menciptakan alam dan seisinya untuk manusia, maka tugas kitalah untuk merawat dan menjaganya bagi generasi penerus kita.

 

Book Your Wedding Site Domain

 

Jika anda tidak memiliki Payment Receipt souvenir ramah lingkungan, anda juga bisa memesan langsung Wedding Site anda mulai dari 250.000IDR hingga budget yang anda tentukan sendiri. Segera pesan domain eksklusif anda.

Posted in: Info

Leave a Comment (0) →

The Green Couple Story

The Green Couple Story

The Green Couples ®, sebuah simbol komitmen sepasang manusia untuk saling setia dan berjanji memberi manfaat bagi keluarga dan lingkungannya untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik bagi semua. Semangat itu juga yang tersirat dalam tagline “Green Future Starts Here” yang menjadi slogan The Green Couples ®.

The Green Couples ® didirikan oleh Muqiet Efadlinur sebagai pengembangan dari Green4S ® yang lebih dulu didirikannya tahun 2008 silam. Green4S ® adalah sebuah kampanye lingkungan yang menawarkan metode alternatif penyampaian pesan pelestarian lingkungan melalui produk inovatif dan kreatif yang dapat mendekatkan kembali masyarakat kepada gaya hidup ramah lingkungan. Saat itu Green4S ® memulai kampanyenya dengan produk inovatif souvenir tanaman yang dikenal dengan merek Souvenir Adenium™.

Souvenir Adenium™ adalah souvenir tanaman hijau pertama dengan merek terdaftar di Indonesia yang menjadi pelopor hadirnya souvenir tanaman hingga saat ini. Cerita inspiratif ini sudah diliput berkali-kali di berbagai media nasional, mulai dari televisi, radio, surat kabar, hingga berbagai majalah eksklusif di seluruh Indonesia. Sebuah pengakuan yang luar biasa dari Indonesia.

Apresiasi masyarakat yang begitu antusias menyambut kehadiran souvenir tanaman pertama ini menunjukkan bagaimana Souvenir Adenium™ mampu menyampaikan pesan lingkungan dengan cara yang unik, kreatif, dan elegan. Cerita dibalik kehadiran Souvenir Adenium™ ini juga tak kalah menarik untuk disimak sebagai inspirasi bersama.

 

Inovasi Kreatif

Kisah ini bermula dari sebuah souvenir pernikahan yang dirancang oleh sepasang anak muda yang merencanakan pernikahan mereka. Sebuah pernikahan yang kelak mengubah hidup mereka dan juga merubah dunia dengan inovasi mereka yang membuat arti sebuah souvenir lebih dari sekedar cinderamata, tapi juga merupakan hadiah bagi bumi dan masa depannya.

Dialah Muqiet Efadlinur B, atau lebih akrab disapa Fadli. Seorang pecinta alam yang sangat menyukai kegiatan outdoor dan suka mendaki gunung. Sudah terlibat aktif dalam kegiatan pecinta alam sejak sekolah menengah atas, hingga akhirnya terpilih sebagai Ketua sebuah organisasi pecinta alam yang telah memiliki ratusan anggota sejak terbentuk di tahun 1980-an.

Bersama calon istrinya Dinda Putri B, yang juga merupakan anggota dari organisasi yang sempat diketuainya itu, mereka merencanakan sebuah souvenir yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Sebuah konsep souvenir yang bisa memberi manfaat lebih dari sekedar cinderamata dan juga tidak berakhir sebagai limbah di tempat sampah.

Butuh beberapa hari bagi mereka untuk memikirkan sebuah konsep souvenir yang bermanfaat tidak hanya bagi si penerima, tapi juga bisa bermanfaat bagi bumi dan penghuninya. Berbagai konsep souvenir mereka diskusikan secara intensif bersama. Perlu analisa yang baik dan menyeluruh untuk memastikan bahwa konsep tersebut memberi manfaat lebih banyak dari limbahnya.

Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk memberikan bibit tanaman sebagai souvenir di hari pernikahan mereka sebagai simbol kehidupan baru, masa depan, dan komitmen untuk bermanfaat bagi sesama. Bibit tanaman juga mewakili harapan dan impian mereka untuk membangun keluarga baru yang penuh cinta dan sejahtera seiring tumbuh besarnya bibit tanaman yang mereka bagikan.

 

Tantangan

Tantangan berikutnya adalah menentukan bibit tanaman apa yang akan mereka berikan. Karena selain bermanfaat, souvenir tersebut harus praktis dibawa, aman, dan juga elegan dalam penampilan. Kombinasi sempurna untuk sebuah konsep souvenir ramah lingkungan yang berkualitas dan berkelas, sangat jauh dari slogan ‘asal ada’.

Setelah melewati beberapa proses riset dan diskusi, mereka memutuskan Adenium merupakan tanaman yang paling cocok untuk konsep souvenir ramah lingkungan ini. Selain menjadi tanaman favorit kedua setelah Anggrek, Adenium juga merupakan tanaman dengan daya tahan paling tinggi untuk kondisi-kondisi yang telah mereka analisa sebelumnya.

Untuk mewujudkan konsep inovatifnya ini, Fadli meminta saran seorang teman lama ketika menyelesaikan studi di Universitas Indonesia, yang tanpa kebetulan saat itu juga memiliki usaha nursery di Jakarta. Beberapa sarannya sangat membantu terutama dalam mempertimbangkan kemasan yang cocok dan aman bagi konsep souvenir ini.

Mendekati hari pernikahan, mereka membawa bibit Adenium yang telah mereka semai sebelumnya untuk kemudian dikemas sesuai rencana oleh nursery milik temannya yang memiliki sumberdaya terlatih untuk memastikan kondisi souvenir siap dibagikan pada para undangan bilamana saatnya telah tiba.

 

Resepsi Nikah

Detik, menit, dan jam berlalu hingga suatu hari sang fajar terbit dengan iringan ayam jantan yang berkokok menandakan hari baru, sebuah hari yang telah dinantikan dan dipersiapkan oleh mereka dengan segala masalah dan tantangannya, untuk sebuah kehidupan baru, perjalanan baru, dan komitmen baru dalam kehidupan.

Tak menunggu lama. Dengan kesigapan panitia yang juga merupakan teman-teman baik mereka di sekolah dan organisasi pecinta alam, 500 pack Souvenir Adenium sudah dipindahkan dari mobil transportasi dan disimpan rapi di dekat meja penerima tamu, untuk kemudian dibagikan bersamaan dengan kedatangan para tamu di resepsi pernikahan.
Tiba saatnya ketika acara resepsi dimulai dan para tamu mulai berdatangan, sontak membuat panitia sibuk dengan tugasnya masing-masing, termasuk penerima di meja tamu yang telah ditugaskan untuk membagikan souvenir tersebut seiring para tamu mengisi buku tamu guna mengantisipasi permintaan souvenir dari tamu yang sama.

Tanpa diduga, souvenir mereka mendapat sambutan antusias dan menjadi bahan pembicaraan, bahkan ketika tamu masih terus berdatangan untuk mengucapkan selamat dan doa restu di resepsi pernikahan mereka. Tidak sedikit juga yang berpikir bahwa itu adalah tanaman buatan sebagaimana cinderamata buatan tangan pada umumnya.

Berbagai sambutan positif berdatangan ketika para tamu memasuki pelaminan untuk bersalaman dengan kedua pengantin. Hal ini tentu menjadi kesan terindah bagi mereka yang memang mendambakan sebuah souvenir yang tidak hanya bermanfaat tapi juga mampu menyampaikan pesan bagi para undangan yang menerima souvenir tersebut.

 

Kesuksesan

Begitu besarnya antusiasme pada kehadiran perdana Souvenir Adenium, membuat 500 pack souvenir yang telah disiapkan tidak mencukupi untuk diberikan sesuai jumlah undangan. Ini disebabkan banyak pihak keluarga yang juga jatuh cinta pada pandangan pertama sehingga tak kuasa untuk meminta souvenir atas nama keluarga (bukan undangan).

Apalah daya ketika antusiasme jauh lebih besar dari persiapan, tentu tidak semua hal dapat diperkirakan sebelumnya. Hal ini memang membuat sebagian undangan hanya mendapat souvenir cadangan saja. Tapi kondisi ini justru membuat mereka yakin bahwa usaha mereka tidaklah sia-sia. Terbayar sudah semua perjuangan dan kerja keras mereka.

Begitu juga dengan bantuan dari keluarga, teman, dan sahabat yang telah bahu membahu membantu mereka baik secara langsung maupun tidak langsung dalam mewujudkan pernikahan dengan inovasi yang jauh lebih bermanfaat dan ramah lingkungan. Semua terbayar dengan kesuksesan Souvenir Adenium memikat para undangan termasuk keluarga dan panitia.

Sebuah kesuksesan yang menutup hari bahagia kedua mempelai disamping berbagai momen bahagia lainnya yang tidak terhitung dan tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Yang dengannya mereka memulai kehidupan baru, perjalanan baru, dan komitmen baru dalam kehidupan. Momen bahagia yang tidak terlupakan bagi mereka dan menjadi dambaan semua pengantin di dunia.

 

Souvenir HijauLangkah Awal Kampanye

Ketika malam menutupi siang dan siang menutupi malam, semua berjalan sebagaimana rencana Tuhan penguasa alam. Tiba-tiba telpon genggam Fadli berdering dan terdengar suara sahabat di seberang yang meminta disiapkan Souvenir Adenium untuk sebuah ajang malam pemutaran perdana kompetisi film dokumenter bergengsi di Indonesia, sebuah event tahunan sebuah televisi swasta yang pada saat itu mengusung tema lingkungan “Hijau Indonesiaku” dan mendaulat Souvenir Adenium sebagai souvenir pada malam pemutaran perdana tersebut.

Tak berhenti disitu, setelah 2 tahun sejak hari pernikahan yang membahagiakan itu, mereka bertemu dengan sahabat dan kerabat yang menjadi undangan pada resepsi pernikahan dan menerima Souvenir Adenium yang mereka bagikan. Tak disangka, ternyata sahabat dan kerabat itu menceritakan bagaimana tanaman Adenium yang mereka berikan sudah tumbuh besar, sebagaimana cinta mereka yang tetap tumbuh dan berkembang dalam ikhtiar membangun keluarga sejahtera.

“Jadilah, maka jadilah!” kira-kira itulah gambaran perjalanan mereka berikutnya, bahkan hingga saat ini. Sebuah rencana sempurna dari Yang Maha Sempurna, yang telah memudahkan mereka mewujudkan ide sederhana menjadi bagian dari kampanye dunia. Dan telah berkembang hingga menjadi sebuah halaman berwarna nan indah yang sekarang ada di layar anda.

Sebuah aksi, solusi, dan ketekunan dalam berbuat. Mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini. The Green Couples, akan terus memiliki lebih banyak cerita dengan berbagai keindahan warna, dari pada The Green Couple berikutnya yang berani mengambil aksi, menjadi bagian dari solusi, untuk masa depan bersama yang lebih baik bagi seluruh isi bumi.

Selamat datang di komunitas ini, salam hijau dari kami…

The Green Couples

 

 

Posted in: Campaign

Leave a Comment (0) →